a common radar
Just another WordPress.com weblogArchive for January 17, 2010
Sang Pengharap
Ini merupakan sebuah catatan seorang pengharap
Catatan yang ditulis dengan perasaan yang putus asa
Catatan yang ditulis dengan raut muka yang kosong
Catatan yang ditulis dengan bibir yang selalu mengucap doa
Catatan yang ditulis dengan air mata yang tertahan
Mungkin catatan ini akan dikenang
Mungkin catatan ini akan dilupakan
Mungkin catatan ini hanya sebuah tulisan yang terperangkap dalam roda waktu
Senyumku tetap menyala
Mataku tak kunjung lepas darinya
Ingin rasanya terus berada di sampingnya
Ingin rasanya melihat terus senyumnya
Walau mungkin aku bukan pemilik senyum sejatinya
Ingin rasanya mendengar terus suaranya
Walau mungkin aku tidak pantas memintanya
Ingin rasanya memberikan semua keinginannya
Walau mungkin hatinya tidak pernah meminta
Sebuah kemenangankah ini?
Entah mengapa air mataku menunjukkan kekalahan
Aku tahu senyum sejatiku tidak pernah terbalas olehnya
Aku tahu mataku tidak berani menatap matanya
Aku tahu pemberianku tidak berarti banyak baginya
Aku tahu keinginanku hanya angan belaka
Aku tahu impianku tidak akan pernah menjadi nyata
Aku tahu aku tidak akan bisa membangun kembali tembok yang dulu pernah kudirikan
Aku tahu aku tidak akan bisa memutar roda waktu kembali
Aku tahu aku tidak akan bisa mencairkan esnya yang beku untukku
Yang ada kini hanyalah kekalahan
Yang ada kini hanya seorang pengharap
Yang telah hanya bisa terus mengembara dalam mimpi
Sehingga membuat keadaan menjadi seperti ini
Akupun seakan dapat menulis buku tentang cara menjadi pengharap
Akupun seakan dapat terus menciptakan lagu impianku
Lagu-lagu bualan yang akan selalu menemani tidurku
Angan mimpiku serasa membual tanpa arah
Akalku serasa membuat pembenaran akan segalanya
Jantungku serasa memompa darah palsu
Menyaksikan sebuah film kepengharapan yang dibintangi oleh diriku
Takdirku membuatku menjauh dari Tuhan
Aku terus mempertanyakan cobaanku
Aku terus menantikan mukjizat yang tak kunjung tiba
Aku terus berdoa putus asa
Semua itu hanya dapat membuatku sedikit lebih tenang
Namun diriku telah putus asa
Sebuah api yang telah padam
Sebuah pensil yang telah tumpul
Sebuah kertas yang telah buram
Aku tak pernah membayangkan sebelumnya
Aku sekarang telah menjadi orang yang terus mengharap tanpa melihat realita
Aku menjadi orang yang tidak bisa keluar dari dunia mimpi karena tak sanggup melihat realita
Lihat aku
Dengar aku
Rasakan aku
Inilah aku
Sang Pengharap