a common radar

Just another WordPress.com weblog

Sang Pecundang

Sang Pecundang

Ini merupakan sebuah catatan seorang pecundang
Catatan yang ditulis dengan perasaan yang sulit terungkap
Catatan yang ditulis dengan raut muka yang letih
Catatan yang ditulis dengan bibir yang tak lagi sanggup memberikan senyum
Catatan yang ditulis dengan air mata yang mungkin sudah tak tertampung

Mungkin catatan ini akan dikenang
Mungkin catatan ini akan dilupakan
Mungkin catatan ini hanya sebuah tulisan yang terperangkap dalam roda waktu

Senyumnya terlihat
Terkadang terlihat bingung
Namun seiring mendekat, senyumnya seperti terlihat melebar
Percakapan berjalan begitu baik
Walau inisiatif selalu berada pada tangannya
Semua tampak baik
Semua tampak menyenangkan
Semua menyimpulkan segalanya telah terselesaikan
Pihak-pihak luar, atau mungkin dari satu pihak yang terlibat langsung setidaknya menyimpulkan seperti itu
Sedangkan aku terus menampilkan senyumku,
di samping air mataku yang deras di tempat yang tak terlihat

Sebuah kemenangankah ini?
Entah mengapa air mataku menunjukkan kekalahan
Aku tahu semua senyumnya bukanlah senyum yang kuharapkan
Aku tahu senyum sejatinya bukan milikku
Aku tahu perhatiannya bukanlah perhatian yang kuasumsikan
Aku tahu aku bukan seseorang yang hatinya tunggu
Aku tahu aku tidak pantas untuk dirinya
Aku tahu aku tidak sama dengan dirinya
Aku tahu aku tidak dapat memenangkannya
Aku tahu aku bukan orang pilihannya
Aku tahu aku bukan bintang harapannya
Aku tahu aku tidak akan pernah dapat menjamahnya
Aku tahu aku tidak bisa menghapus air matanya
Aku tahu semua perjalananku sia-sia

Air mataku tidak akan pernah berhenti untuknya
Aku hanya bisa menyembunyikannya
Aku hanya bisa memberikan senyum palsuku padanya
Aku hanya bisa mengikuti keinginannya
Aku hanya bisa berusaha tidak menyakitinya

Semuanya sudah habis
Waktuku telah habis
Air mataku telah habis
Tawaku telah habis
Kekuatanku telah habis

Aku tahu aku tidak akan bisa membangun kembali tembok yang dulu pernah kudirikan
Aku tahu aku tidak akan bisa memutar roda waktu kembali
Aku tahu aku tidak akan bisa mencairkan esnya yang beku untukku

Yang ada kini hanya kekalahan
Yang ada kini hanya seorang pecundang
Yang telah tidak bisa mempertahankan perasaan dan egonya
Sehingga membuat keadaan menjadi seperti ini

Akupun seakan dapat menulis buku tentang cara menjadi pecundang
Akupun seakan dapat terus menciptakan lagu kepecundanganku
Lagu-lagu bualan yang tidak akan pernah menjadi nyata

Angan mimpiku serasa terampas
Akalku serasa hampir runtuh
Jantungku serasa hampir berhenti berdetak
Menyaksikan sebuah film kepecundangan yang dibintangi oleh diriku

Takdirku membuatku menjauh dari Tuhan
Aku terus mempertanyakan cobaanku
Aku terus menantikan mukjizat yang tak kunjung tiba
Aku terus berdoa putus asa
Semua itu hanya dapat membuatku sedikit lebih tenang

Namun diriku telah rapuh
Sebuah cangkang keras yang isinya telah keropos
Sebuah lagu merdu tanpa nada
Sebuah mobil mewah yang akinya telah soak
Sebuah rumah megah dengan pondasi yang telah rusak

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya
Aku sekarang telah dihancurkan sedemikian rupa dari dalam
Aku menjadi orang yang tidak dapat menampilkan sosok aslinya

Lihat aku
Dengar aku
Rasakan aku
Inilah aku
Sang Pecundang

Advertisement

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.